Sabtu, 19 November 2016



Optimalisasi Budaya 3M (Membaca, Menulis, dan Meneliti) Mahasiswa dalam Menciptakan Kampus yang Intelektual



 






                                                                         



Nama    : Anwar
Nim     : 1501045016


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MULAWARMAN






Universitas Mulawarman (Unmul) merupakan salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di Benua etam. Hal ini didukung  dengan rilis peringkat perguruan tinggi yang meliputi kualitas manajemen, kegiatan mahasiswa, dan penelitian dan publikasi dari Kementrian Ristek Dikti yang menempatkan Unmul berada diposisi 48 dan menjadi yang terbaik di Kalimantan. Kondisi seperti ini bukan menjadi jaminan bahwa kualitas mahasiswa Unmul sudah baik, karena tingkat literasi mahasiswa gunung kelua (sebutan untuk mahasiswa Unmul) masih minim. Kita lihat, ketika sebagian besar mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan, menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas kuliah sembari menikmati internet gratis, bukan menggunakan waktunya untuk membaca buku maupun jurnal-jurnal yang disediakan. Budaya membaca buku-buku maupun jurnal ilmiah masih sangat minim dijumpai. Lebih lanjut lagi, budaya literasi merupakan cerminan kemajuan bangsa Para Antropolog bahasa, seperti Lucian Levy-Bruhl, Claude Levi-Strauss, Walter Ong, dan Jack Goody memandang literasi sebagai titik pangkal pembeda masyarakat primitif dari masyarakat “beradab” 1.
Perilaku menyontek mahasiswa saat ujian tengah semester maupun ujian akhir semester tidak dipungkiri merupakan penyakit yang sudah menjadi tumor dikalangan mahasiswa, mengerjakan sesuatu dengan instan itulah kuncinya. Kebiasaan mengerjakan tugas makalah dari dosen dengan menyalin penuh dari internet tanpa mengambil rujukan dari buku maupun jurnal menjadikan mahasiswa dewasa ini menjadi generasi instan.
1.       Totok Djuroto dan Bambang Supriadi. Menulis Artikel dan Karya Ilmiah, (Bandung, PT RemajaRosdakarya, 2003)
2.       Etty Indriati, Ph.D. Menulis Karya Ilmiah, (Jakarta, PT Bersaudara, 2003)

Oleh karena itu, upaya menumbuhkan dan memacu minat mahasiswa untuk membudayakan minat 3M tentu harus terus-menerus dilakukan. Menurut  Prof. Dr. Tanjaya, mahasiswa yang menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas. Dengan menulis, mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya.2



A.                Optimalisasi Fungsi Perpustakaan
 Perpustakaan merupakan pusat studi membaca dan keberaksaraan (literacy). Ibarat sebuah jantung, perpustakaan merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan rasa ingin tahu para mahasiswa. Aktivitas yang sejatinya perlu dikelola secara optimal dalam perpustakaan, yaitu:
Pengembangan Sarana dan Prasarana perpustakaan kampus merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Pihak kampus perlu memperhatikan lebih jauh bagaimana membuat perpustakaan fakultas dan pusat menjadi lebih nyaman. Dari sekian banyak universitas, barangkali hanya universitas ternama yang memiliki sarana dan prasarana yang mendukung. Sebaliknya, universitas lainnya masih membutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara elemen pemerintah dan pihak kampus dalam mengembangkan perpustakaan menjadi lebih baik, misalnya, menyediakan dana lebih untuk penambahan buku, pengadaan komputer, hot-spot, serta aktivitas keilmuan.
Salah satu output dari membaca adalah menulis dan meneliti. Dibutuhkan peran dosen dalam mendorong mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Dengan tugas-tugas konstruktif yang bersifat analitis, maka mahasiswa akan sering mendatangi Jurnal perpustakaan dan terdorong untuk membaca, menulis, dan meneliti.
 Perpustakaan juga bisa menyelenggarakan lomba karya tulis untuk mahasiswa di tingkat universitas, serta menggiatkan aktivitas keilmuan dengan konsep yang menarik. Kerjasama antara mahasiswa dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk menggiatkan aktivitas keilmuan juga dirasa efektif dalam meningkatkan nuansa keilmuan dilingkungan kampus.
B.                Pengembangan Kelompok Studi (KS)
Kelompok Studi (KS) adalah hal yang wajib bagi setiap perguruan tinggi, untuk memiliki komunitas atau kelompok studi yang khusus bergerak dalam bidang keilmuan dan riset. Kelompok studi ini hendaknya dibangun berdasarkan core competence masing-masing fakultas. Namun, akan lebih baik jika semua KSF (Kelompok Studi Fakultas) memiliki KS pusat yang merangkul semua disiplin ilmu. Ini merupakan langkah yang baik untuk menuansakan budaya literasi di kalangan mahasiswa. UGM misalnya, memiliki Kelompok Studi bernama Gama Cendekia (GC) yang saat ini memiliki lebih dari 500 anggota. Begitu juga dengan IPB yang memiliki Forum for Scientific Studies (Forses). Kedua universitas itu seringkali menjuarai PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), suatu ajang keilmuan bergengsi di tingkat nasional. Aktivitas ini tentu saja didukung penuh oleh rektorat. IPB misalnya, bahkan memasukkan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) PIMNAS sebagai mata kuliah wajib. Bagi mahasiswa yang menjuarai PKM di tingkat nasional, karya mereka senilai dengan kewajiban membuat skripsi3.
C.                Kurikulum Berbasis Bahasa Inggris
Saat ini batas-batas geografis semakin tidak terlihat. Penguasaan bahasa Inggris adalah hal yang wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Dengan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, para mahasiswa diharapkan mampu meretas komunikasi global. Bagaimanapun, kedudukan bahasa Inggris semakin penting dalam berbagai bidang. David Cystal (1993, 2001, 2007) mengatakan “The need for a global language is particularly appreciated by the international academic and business communities, and it is here that the adoption of a single lingua franca is most in evidence, both in lecture-rooms and board-rooms, as well as in thousands 76 Volume 1, Desember 2010 individual contacts being made daily all over the globe.” 4. Bahasa Inggris merupakan jembatan literasi global. Tanpa penguasaan bahasa Inggris, bangsa Indonesia akan tertinggal jauh. Universitas, sebagai tempat tumbuhnya para intelektual muda, perlu menyadari hal ini secara serius. Penulis mengapresiasi beberapa universitas yang sudah menerapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat kelulusan. Misalnya, pada 1996, Rektor Universitas Lampung (Unila) mengharuskan mahasiswanya mencapai nilai TOEFL minimal 450 untuk bisa diwisuda. Kebijakan serupa juga diberlakukan oleh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Drs.Haris Mudjiman PhD, yang mewajibkan semua mahasiswa UNS mengikuti kuliah 
3.       Alfi Syahriani. Optimalisasi budaya literasi di kalangan mahasiswa, (Bandung, Universitas Indonesia, 2014)
4.       Crystal David. English as Global Language, (Cambridge, Cambridge University, 2007)


ekstra bahasa Inggris (Suroso, 45:2007). Saat ini, kurikulum bahasa Inggris memang sudah menjadi mata kuliah wajib di universitas. Namun, alangkah lebih baik jika mata kuliah bahasa Inggris diberlakukan secara berjenjang dan kontinu di tiap semester, sehingga universitas dapat mencetak lulusan yang bisa menjadi opinion leader (Pemimpin opini) di tataran global. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi pihak universitas, terutama skill dan jumlah tenaga pengajar yang mendukung. Selain itu, pendapat pro-kontra terhadap hegemoni bahasa Inggris yang diasumsikan dapat menggerus bahasa nasional juga menjadi PR tersendiri. Namun, terlepas dari itu, hemat penulis, jika bahasa Inggris digunakan secara proporsional, seperti menyimak, membaca, menulis, berbicara, dan menerjemahkan maka para peserta didik dapat mewacanakan pendapat mereka di tingkat global. Lebih jauh, jika para intelektual muda dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik, maka akan terbangun interhuman communication yang baik, kepekaan terhadap budaya bangsa lain, serta terbangunnya budaya literasi yang baik.
Kesimpulan dari tulisan kali ini adalah perwujudan nyata dalam menciptakan iklim ilmiah dikalangan mahasiswa dapat dilakukan dengan meningkatkan budaya  literasi mahasiswa, kita butuh lingkungan civitas academica yang membudayakan 3M (Membaca, Menulis, Meneliti), budaya yang dapat melahirkan mahasiswa-mahasiswa unggul. Hal ini dapat didukung dengan pengembangan potensi guna dari Perpustakaan dalam menyediakan fasilitasi 3M serta pengoptimalisasian KS (Kelompok Studi) yang akan membangun pondasi yang kuat bagi Softskill dan Hardskill mahasiswa.



Pendidikan mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya                            ~ Francis-Marie Arouet (Voltaire) 1694-1778 ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar