Optimalisasi
Budaya 3M (Membaca, Menulis, dan Meneliti) Mahasiswa dalam Menciptakan Kampus
yang Intelektual
Nama
: Anwar
Nim :
1501045016
FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS
UNIVERSITAS MULAWARMAN
Universitas Mulawarman (Unmul) merupakan salah satu
Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di Benua etam. Hal ini didukung dengan rilis peringkat perguruan tinggi yang
meliputi kualitas manajemen, kegiatan mahasiswa, dan penelitian dan publikasi
dari Kementrian Ristek Dikti yang menempatkan Unmul berada diposisi 48 dan
menjadi yang terbaik di Kalimantan. Kondisi seperti ini bukan menjadi jaminan
bahwa kualitas mahasiswa Unmul sudah baik, karena tingkat literasi mahasiswa
gunung kelua (sebutan untuk mahasiswa Unmul) masih minim. Kita lihat, ketika
sebagian besar mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan, menggunakan waktunya
untuk mengerjakan tugas kuliah sembari menikmati internet gratis, bukan
menggunakan waktunya untuk membaca buku maupun jurnal-jurnal yang disediakan.
Budaya membaca buku-buku maupun jurnal ilmiah masih sangat minim dijumpai.
Lebih lanjut lagi, budaya literasi merupakan cerminan kemajuan bangsa Para
Antropolog bahasa, seperti Lucian Levy-Bruhl, Claude Levi-Strauss, Walter Ong,
dan Jack Goody memandang literasi sebagai titik pangkal pembeda masyarakat
primitif dari masyarakat “beradab” 1.
Perilaku menyontek mahasiswa saat ujian tengah
semester maupun ujian akhir semester tidak dipungkiri merupakan penyakit yang
sudah menjadi tumor dikalangan mahasiswa, mengerjakan sesuatu dengan instan
itulah kuncinya. Kebiasaan mengerjakan tugas makalah dari dosen dengan menyalin
penuh dari internet tanpa mengambil rujukan dari buku maupun jurnal menjadikan
mahasiswa dewasa ini menjadi generasi instan.
|
1. Totok
Djuroto dan Bambang Supriadi. Menulis Artikel dan Karya Ilmiah, (Bandung, PT RemajaRosdakarya,
2003)
2. Etty
Indriati, Ph.D. Menulis Karya Ilmiah,
(Jakarta, PT Bersaudara, 2003)
|
Oleh karena itu, upaya menumbuhkan dan memacu minat
mahasiswa untuk membudayakan minat 3M tentu harus terus-menerus dilakukan. Menurut
Prof. Dr. Tanjaya, mahasiswa yang
menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan
ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk
menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas. Dengan menulis,
mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya.2
A.
Optimalisasi Fungsi Perpustakaan
Perpustakaan merupakan pusat studi membaca dan
keberaksaraan (literacy). Ibarat
sebuah jantung, perpustakaan merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan
rasa ingin tahu para mahasiswa. Aktivitas yang sejatinya perlu dikelola secara
optimal dalam perpustakaan, yaitu:
Pengembangan Sarana dan
Prasarana perpustakaan kampus merupakan hal yang sangat penting dilakukan.
Pihak kampus perlu memperhatikan lebih jauh bagaimana membuat perpustakaan
fakultas dan pusat menjadi lebih nyaman. Dari sekian banyak universitas,
barangkali hanya universitas ternama yang memiliki sarana dan prasarana yang
mendukung. Sebaliknya, universitas lainnya masih membutuhkan perhatian khusus.
Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara elemen pemerintah dan pihak kampus
dalam mengembangkan perpustakaan menjadi lebih baik, misalnya, menyediakan dana
lebih untuk penambahan buku, pengadaan komputer, hot-spot, serta aktivitas keilmuan.
Salah satu output dari
membaca adalah menulis dan meneliti. Dibutuhkan peran dosen dalam mendorong mahasiswanya
untuk melakukan penelitian. Dengan tugas-tugas konstruktif yang bersifat
analitis, maka mahasiswa akan sering mendatangi Jurnal perpustakaan dan
terdorong untuk membaca, menulis, dan meneliti.
Perpustakaan juga bisa menyelenggarakan lomba
karya tulis untuk mahasiswa di tingkat universitas, serta menggiatkan aktivitas
keilmuan dengan konsep yang menarik. Kerjasama antara mahasiswa dan Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk menggiatkan aktivitas keilmuan juga dirasa
efektif dalam meningkatkan nuansa keilmuan dilingkungan kampus.
B.
Pengembangan Kelompok Studi (KS)
Kelompok Studi (KS) adalah
hal yang wajib bagi setiap perguruan tinggi, untuk memiliki komunitas atau
kelompok studi yang khusus bergerak dalam bidang keilmuan dan riset. Kelompok
studi ini hendaknya dibangun berdasarkan core
competence masing-masing fakultas. Namun, akan lebih baik jika semua KSF (Kelompok
Studi Fakultas) memiliki KS pusat yang merangkul semua disiplin ilmu. Ini
merupakan langkah yang baik untuk menuansakan budaya literasi di kalangan
mahasiswa. UGM misalnya, memiliki Kelompok Studi bernama Gama Cendekia (GC) yang
saat ini memiliki lebih dari 500 anggota. Begitu juga dengan IPB yang memiliki Forum for Scientific Studies (Forses).
Kedua universitas itu seringkali menjuarai PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa
Nasional), suatu ajang keilmuan bergengsi di tingkat nasional. Aktivitas ini
tentu saja didukung penuh oleh rektorat. IPB misalnya, bahkan memasukkan PKM
(Program Kreativitas Mahasiswa) PIMNAS sebagai mata kuliah wajib. Bagi
mahasiswa yang menjuarai PKM di tingkat nasional, karya mereka senilai dengan
kewajiban membuat skripsi3.
C.
Kurikulum Berbasis Bahasa Inggris
Saat ini batas-batas
geografis semakin tidak terlihat. Penguasaan bahasa Inggris adalah hal yang
wajib dimiliki oleh para mahasiswa. Dengan penguasaan bahasa asing, terutama
bahasa Inggris, para mahasiswa diharapkan mampu meretas komunikasi global.
Bagaimanapun, kedudukan bahasa Inggris semakin penting dalam berbagai bidang.
David Cystal (1993, 2001, 2007) mengatakan “The
need for a global language is particularly appreciated by the international
academic and business communities, and it is here that the adoption of a single
lingua franca is most in evidence, both in lecture-rooms and board-rooms, as
well as in thousands 76 Volume 1, Desember 2010 individual contacts being made
daily all over the globe.” 4. Bahasa Inggris merupakan jembatan
literasi global. Tanpa penguasaan bahasa Inggris, bangsa Indonesia akan
tertinggal jauh. Universitas, sebagai tempat tumbuhnya para intelektual muda,
perlu menyadari hal ini secara serius. Penulis mengapresiasi beberapa
universitas yang sudah menerapkan kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat
kelulusan. Misalnya, pada 1996, Rektor Universitas Lampung (Unila) mengharuskan
mahasiswanya mencapai nilai TOEFL minimal 450 untuk bisa diwisuda. Kebijakan
serupa juga diberlakukan oleh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Drs.Haris
Mudjiman PhD, yang mewajibkan semua mahasiswa UNS mengikuti kuliah
|
3. Alfi
Syahriani. Optimalisasi budaya literasi
di kalangan mahasiswa, (Bandung, Universitas Indonesia,
2014)
4. Crystal
David. English as Global Language,
(Cambridge, Cambridge University, 2007)
|
ekstra bahasa Inggris (Suroso, 45:2007).
Saat ini, kurikulum bahasa Inggris memang sudah menjadi mata kuliah wajib di
universitas. Namun, alangkah lebih baik jika mata kuliah bahasa Inggris
diberlakukan secara berjenjang dan kontinu di tiap semester, sehingga universitas
dapat mencetak lulusan yang bisa menjadi opinion
leader (Pemimpin opini) di tataran global. Hal ini tentu saja menjadi
tantangan tersendiri bagi pihak universitas, terutama skill dan jumlah tenaga
pengajar yang mendukung. Selain itu, pendapat pro-kontra terhadap hegemoni
bahasa Inggris yang diasumsikan dapat menggerus bahasa nasional juga menjadi PR
tersendiri. Namun, terlepas dari itu, hemat penulis, jika bahasa Inggris
digunakan secara proporsional, seperti menyimak, membaca, menulis, berbicara,
dan menerjemahkan maka para peserta didik dapat mewacanakan pendapat mereka di tingkat
global. Lebih jauh, jika para intelektual muda dapat menguasai bahasa Inggris
dengan baik, maka akan terbangun interhuman
communication yang baik, kepekaan terhadap budaya bangsa lain, serta
terbangunnya budaya literasi yang baik.
Kesimpulan dari tulisan
kali ini adalah perwujudan nyata dalam menciptakan iklim ilmiah dikalangan
mahasiswa dapat dilakukan dengan meningkatkan budaya literasi mahasiswa, kita butuh lingkungan civitas academica yang membudayakan 3M
(Membaca, Menulis, Meneliti), budaya yang dapat melahirkan mahasiswa-mahasiswa
unggul. Hal ini dapat didukung dengan pengembangan potensi guna dari
Perpustakaan dalam menyediakan fasilitasi 3M serta pengoptimalisasian KS
(Kelompok Studi) yang akan membangun pondasi yang kuat bagi Softskill dan Hardskill mahasiswa.
“Pendidikan
mengembangkan kemampuan, tetapi tidak menciptakannya” ~ Francis-Marie Arouet (Voltaire)
1694-1778
~
